MEMORABILIA

Oleh: Faisal Alif*
Sumber gambar: http://ngeblugyuah.over-blog.com
Setelah peristiwa itu, aku memilih tak lagi ingin mengenalmu lebih tepatnya aku sudah pergi jauh melupakanmu. Pergilah sejauh kau bisa. Jika nanti kau temukanku aku sudah menjadi orang asing yang tak pernah tahu siapa engkau. Lalu menangislah, kau sudah bukan siapa-siapa.

Hari ini, matahari seperti bara api di kepalaku, membakar seluruh isi otak tak memberi ampun. Aku sudah tak tahu lagi bagaimana cara yang paling ampuh melupakan kenangan, barangkali menjadi orang gila adalah cara terbaik melupakan, ini pilihan terakhir untuk menghapus semuanya. Selain itu akan aku bakar semua tulisan-tulisan yang pernah aku tuliskan namanya. Anjir.. Aku sudah benar lupa semuanya. Bukankah membakar tulisan adalah kejahatan? Ah....

Kenapa? Kenapa aku harus berada di sini? Aku yakin Tuhan tak pernah salah, Qais menjadi gila karena cintanya kepada Laila, Romeo memilih bunuh diri, juga karena sebab cintanya pada Juliet, atau Syamsul Bahri yang menjadi kompeni sebab ingin membunuh Datuk Maringgih yang merebut Siti Nurbaya atau Zainudin yang pergi ke Batavia karena ditinggal menikah oleh Hayati. Atau legenda seorang Pangeran yang sanggup membuat seribu candi satu malam. Anjay! Cinta membuat mereka seperti itu. Gila! Membingungkan. jika tak ingin luka, mati saja, bukankah Gabriel pernah berujar “kalau rasa sakit adalah resiko untuk tetap hidup”.Asu! Semakin ngelantur saja pikiranku. Kenapa aku bilang mereka gila, bukankah aku juga gila? Hahahah. Lucu!.

Sudah dua hari ini aku bersusah payah melawan kantuk di depan komputer, tak makan, tak mandi, tak shalat, pokoknya serba tak, selain minum air, kopi, dan merokok, aku tidak bisa tinggalkan tiga hal itu. Apalagi suasananya seperti macam ini. Aku ingin keluar sebentar mencari makan, aku tak ingin mati konyol.

Aku berhenti di sebuah pasar, orang-orang melihatku dengan tajam, sementara aku tertawa sendiri melihatnya. Apakah salah lelaki sepertiku ke pasar? Entahlah, tak masalah mereka menatapku, juga mengataiku. Terserah. Toh ini hidupku. Aku lihat banyak hal di sini, mulai dari sopir taxi, tukang becak, mereka tak peduli kepada apa yang terjadi, hanya tahu penumpang dan sudah hafal betul bagaimana cara yang paling baik menawarkan jasanya, dengan jaminan keselamatan pula tentunya. Di pojok sebelah barat pasar ibu-ibu ramai. Saling tawar menawar isu, sebelum mebeli sayur, ikan, tempe, tahu, dan makanan-makanan lain yang bisa dibuat lauk apabila nanti suami pulang kerja menjelang petang.

Adakah cara paling ampuh melupakan semuanya yang bernama kenangan?.

Daruz, mana dia? Lelaki itu sangat aku butuhkan hari ini, aku ingin sekali menceritakan semua pengalamanku menjadi orang gila, tapi kemana dia? Rupanya dia sedang menulis, dasar penulis, bolos kuliah, ngopi, tidur, nulis, itu saja pekerjaannya, aku hampiri dia, yang sedang menulis sesuatu di depan komputer, malang sekali. Daruz tidak mau diganggu sekarang setelah berapa hari lalu gagal membuat sop sayur keruh karena keasinan. waduh, dia masih tidak bisa move on dari sayur itu dan benar kata Suroso masalah sepele ini yang membuatnya mengurung diri hampir setengah bulan. Astaga! Ternyata seperti ini toh kehidupan penulis, bukan hanya karena perempuan, gagal membuat sop sayur pun susah sekali move on.

Hari-hari berlalu di kota ini, dan aku sudah selesai kuliah sekarang aku akan pulang ke kampung halaman dalam waktu dekat ini aku sudah diminta mengajar di salah satu sekolah di daerahku, dan aku akan meneruskan bisnis Ayahku tak lupa menyelesaikan buku.

Setelah kurun waktu sepuluh tahun, aku masih begini-begini saja, masih senang menghukum diri sendiri di depan laptop.

Aku ingat minggu depan akan ke Jakarta untuk mengisi acara kawinan temanku di sana. Karena, dia sudah berjanji padaku jika nanti menikah pada saat resepsinya dia akan mengundangku, untuk membacakan puisi untuknya.

Sesampainya di sana, semua teman-teman kuliah menyapaku, tentunya mereka datang dengan istrinya masing-masing, ada pula yang sudah beranak, sementara aku datang dengan dengan sopir pribadi. Kampret! Malang sekali hidupku ini, sudah hampir berumur 30 tahun masih bertahan dengan ke-jombloan, mungkin ini kutukan sepasang sandal yang aku beri tulisan jomblo senior waktu berada di asrama. Ya sudahlah, Tuhan tidak tidur. Berapa jam kemudian acara sudah dimulai, garing sekali, aku menunggu giliranku membaca puisi, kapan sih aku baca puisi? Sebelum aku bertanya pada diri sendiri pembawa acara telah memanggilku di samping pengantin, santai saja aku berjalan dengan bekal puisi karya Azam Tanjalil Anfal, “Suwung Surya Di Sebelah Masjid Al-Mustaqim.” Pertama aku ucapkan dulu salam, lalu aku baca puisi dengan iringan gitar, entah siapa yang memainkannya aku tak ambil peduli. Yang penting mereka menikmati pembacaa puisiku. Hampir selesai aku membaca, aku melihat sosok perempuan yang samar-samar aku ingat namanya di kepalaku. Oh iya! Dia perempuan yang pernah membuatku hampir gila, mengapa dia hadir ke sini? Ah! Ingin segera aku pergi dari sini. Cepat-cepat aku selesaikan membaca. Setelah selesai aku keluar ruangan, secepatnya aku pergi namun diluar aku dihadang perempuan itu, dia meminta maaf, apa guna kata maaf pikirku? Bukankah air mata hanya si bisu yang tak sanggup bertanya kenapa? Kenapa kau merana? Air mata hanya si buntung yang tak mampu menarik pundakku dengan tangan-tangannya. Wah, itu kalimatnya Daruz Armedian, kalau tidak salah dalam kumpulan cerpennya “Sifat Baik Daun” untung saja bukan kalimatnya penulis T bisa-bisa aku digantung.

Tiba-tiba, aku terbangun karena lengking alarm di samping tempat tidur. Aku lihat jam sudah setengah tujuh. Cepat-cepat aku mandi. Setelah itu, aku makan, lalu berangkat kuliah. Dalam perjalanan menuju ke kampus aku masih teringat mimpi itu. Entahlah! Tiba-tiba aku berada di ranjang rumah sakit.

Yogyakarta, 2017


*Muhammad Rizal, adalah kader PMII Rayon Ashram Bangsa
Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Angkatan 2017 (Korp Paramartha)



MEMORABILIA MEMORABILIA Reviewed by ashrambangsanews on Desember 27, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar