Ke-PMII-an

Oleh: Habibullah Afrizal
Sumber gambar: https://radarselatan.fajar.co.id


TUJUAN:

  1. Mengetahui historis kelahiran PMII

  2. Mengetahui perjalanan PMII dari masa ke-masa serta moment-moment penting PMII

  3. Memahami dan mengetahui filosofi nama dan arti lambang PMII

  4. Mampu menjiwai sesuai identitas diri sebagai kader PMII

  5. Mengetahui Posisioning PMII

  6. Mengerti apa yang harus dilakukan setelah menjadi kader PMII sesuai dengan tujuan PMII yang berasaskan Ke-islam-an ke-Indonesia-an

  7. Mampu mengenal dan mencintai PMII Rayon Ashram Bangsa serta para sahabat terdahulu.

POKOK BAHASAN:

  1. Layar Sosio-Historis PMII

  2. Filosofi Nama dan Lambang PMII

  3. Posisioning PMII

  4. Ke-Ashram Bangsa-an



Terbentuknya pribadi muslim

yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur,

berilmu, cakap dan bertanggungjawab

mengamalkan ilmunya

dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia

.

(Tujuan PMII)[1]



  1. Layar Sosio-Hitoris PMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia lahir dari Rahim organisasi kemasyarakatan islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama’ pada tanggal 17 April 1960.

Ide lahirnya PMII  bermula dari hasrat yang kuat kalangan pemuda NU yang berada di perguruan tinggi untuk membentuk suatu organisasi yang menjadi wadah berkumpul dan beraktifitas bagi mereka, ide ini muncul pada muktamar II IPNU di pekalongan tahun 1957. Akan tetapi pihak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’ (PBNU) pada saat itu belum memberikan respon serius bahkan cenderung tidak merespon[2].

Kemauan para mahasiswa NU tak pernah kendor, bahkan semakin berkobar dari kampus ke kampus. Hal ini sangat bisa dimengerti, karena kondisi sosial politik pada dasawarsa 50-an memang sangat penting dan memungkinkan untuk melahirkan organisasi baru.

Pada saat itu juga banyak organisasi-organisasi yang berdiri dan berpayung pada induknya semisal, HMI (dengan MASYUMI), IMM (dengan MUHAMMADIYAH), KMI (dengan PERTI), SEMII (dengan PSII) serta masih banyak lagi, maka dari itu wajar jika anak-anak NU kemudian ingin mendirikan organisasi serupa yang bernaung di bawah panji-panji Nahdlatul Ulama’. Dan benar,  hasrat tersebut terwujud dengan berdirinya Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama’ (IMANU) di Jakarta pada akhir 1955 yang dipelopori oleh Wa’il Harits Sugianto[3].

Akan tetapi IMANU tidak berumur panjang, PBNU dengan tegas menolak dengan alasan dan pertimbangan bahwasanya IPNU baru saja lahir pada 24 Februari 1954. Jadi penolakan bukan karena prinsip berdirinya IMANU tetapi lebih pada pertimbangan waktu, pembagian tugas dan efektifitas organisasi. Namun,  kecenderungan ini sudah di antisipasi oleh IPNU dengan ditambahnya departemen baru pada setruktur organisasi IPNU yang kemudian dikenal dengan Departemen Perguruan Tinggi IPNU.

Seiring berjalanya waktu, Departemen Perguruan Tinggi mulai terguncang dikarenakan porsi pendidikan dan pengetahuan yang berbeda antara Mahasiswa dan Pelajar (Siswa). Kemudian Departemen Perguruan Tinggi terus mendesak untuk memisahkan diri dari struktural IPNU.

.



























































 Waktu dan atau TempatPMII dari Masa ke-masa
14-16 Maret 1960

Kaliurang, Yogyakarta.
Puncak dari perjuangan untuk mendirikan sebuah organisasi mahasiswa NU adalah ketika IPNU mengadakan Konferensi Besar di Kaliurang Yogyakarta. Diawali ketika Isma’il Zakki selaku ketua Departemen Perguruan Tinggi mempertegas keinginan untuk mendirikan sebuah organisasi baru, akhirnya  forum konferensi membuat sebuah keputusan untuk mendirikan wadah tersendiri bagi mahasiswa. Kemudian dibentuklah kepanitian pendiri organisasi mahasiswa yang terdiri dari 13 orang dengan tugas memberi informasi dan mengajak untuk melaksanakan musyawarah mahasiswa nahdiyin se-Indonesia di Surabaya dengan batas waktu 1 bulan (14-16 April 1960).

Adapun ke 13 orang tersebut adalah : Chalid Mawardi (Jakarta), Said Budairy (Jakarta), M. Sobich Ubad (Jakarta), M. Makmun Syukri (Bandung), Hilman (Bandung), H. Ismail Makky (Yogyakarta), Munsif Nahrawi (Yogyakarta), Nuril Huda Suaidy (Surakarta), Abdul Wahab Jailani (Semarang), Hisbullah Huda (Surabaya), M. Kholid Narbuko (Malang), Ahmsd Husain (Makasar)[4].

14-16 April 1960

Taman Pendidikan Putri Khadijah (sekarang UNSIRI) Surabaya.
Berkumpulah para tokoh-tokoh mahasiswa NU yang tergabung dalam Departemen Perguruan Tinggi IPNU pada musyawarah mahasiswa nahdiyin se-Indonesia di Surabaya. Dengan semangat yang membara mereka membahas nama dan bentuk organisasi yang sudah dari lama mereka idam-idamkan.

17 April 1960

Taman Pendidikan Putri Khadijah (sekarang UNSIRI) Surabaya.
Beretepatan dengan itu ketua Umum PBNU, K.H. Idham Khalid, memberikan lampu hijau. Bahkan, membakar semangat pula agar para mahasiswa NU menjadi kader partai.

Kemudian dari Departemen Perguruan Tinggi IPNU setelah melewati musyawarah lahirlah Organisasi yang di beri nama “PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA”.



Dalam perjalan pertamnaya PMII masih menginduk pada IPNU dan NU(PMII sebagai Underbouw NU baik secara Struktural maupun Fungsional dapat kita kenal sebagai istilah Fase Dependensi PMII-NU)[5]

23-26 Desember 1961, Tawangmangu.Pada kongres pertama PMII, menyatakan sikap dan pendirianya atas pertanggung jawaban terhadap kepentingan umat islam, negara dan bangsa Indonesia serta mengenai beberapa hal pokok yang di arsipkan dalam DEKLARASI TAWANGMANGU.[6]

1971 (Pemilu ke-II pasca revolusi 1945. Sebelumnya, pemilu ke-I  sudah terlaksana pada 1955 dalam sejarah Indonesia).Dengan situasi politik yang sangat panas dan juga banyak organisasi-organisasi kemahasiswaan menjadi sayap-sayap partai yang menyokong kemenangan partai. Menjadikan gerakan PMII jugs cenderung bersifat politik praktis yang menyokong partai NU. Hal ini terjadi sampai tahun 1972.

Dari 9 partai politik dan 1 Golongan Karya yang bertarung pada saat itu salah satunya adalah Partai Nahdlatul Ulama’.

Keterlibatan PMII dalam dunia politik praktis sebagai sayap NU di sinyalir amat merugikan gerakan PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang menyebabkan PMII mengalami kemunduran dalam banyak hal.

Dampaknya PMII justru melupakan jati dirinya sebagai organisasi mahasiswa yang pada hakikatnya merupakan suatu gerakan intelektual, sosial, budaya dan gerakan moral[7].

14-16 Juli 1972 Munarjati Lawang, Malang, Jawa Timur.Dengan kondisi yang semakin tidak stabil dibadan PMII mengharuskan PMII untuk mengkaji dan melakukan refleksi gerakan kembali, khususnya dalam dunia politik praktis.

Pada Musyawarah besar PMII yang ke-III, dengan melewati berbagai pertimbangan dengan memohon rahmat Allah SWT, PMII menyatakan tidak terikat dalam sikap dan tindakan kepada siapapun dan hanya komited dengan perjuangan organisasi dan cita-cita perjuangan nasional yang berlandaskan Pancasila.

Lalu di kenallah hal tersebut dengan DEKLARASI MUNARJATI

Dan sejak itulah PMII secara formal dan struktural lepas dari naungan partai NU.

Disebutlah hal tersebut sebagai Fase Independensi PMII.



Tim perumus Deklarasi Munarjati.

Ummar Bassalim (Yogyakarta), Slamet Effendi Yusuf (Yogyakarta), Man Muhammad Iskandar (Bandung), Madjid Syah (Bandung), Choirunnisa’ Yafizham (Medan), Tatik Farikhah ( Surabaya), Rahaman Idrus (Sulawesi), Muis Kabri (Malang).



Dengan di canangkanya Independensi, Disini PMII Yogyakarta hadir sebagai pendukung penuh dengan alasan bahwasanya Organisasi Kemahasiswaan harus bebas menentukan sikap sebeb kenyataanya PMII masih merasa canggung menghadapi situasi nasional, karena masih mempertimbangkan NU sebagai induknya, sedangkan PMII dan NU berbeda[8].

8 Oktober 1989, Cibogo, Medan.Hingga pada kongres medan Independensi PMII masih dipertahankan, bahwa Independensi PMII merupakan manifestasi dari kesadaran PMII terhadap tuntutan kemandirian, kepeloporan, kebebasan berfikir dan berkreasi serta tanggungjawab sebagai kader umat dan bangsa.

Merespon pembangunan bangsa serta modernitas bangsa dengan menjunjung tinaggi nilai etik dan moral serta idealism yang dijiwai oleh ajaran islam ahlussunnah wal jamaah.

Dengan sikap yang demikian maka di kenallah dengan PENEGASAN CIBOGO yang bertujuan untuk mengukuhkan tujuan dari deklarasi munarjati.[9]

27 Oktober 1991 Pondok Gede, Jakarta.Pada Kongres PMII ke-X, PMII menyadari bahwa secara kultur dan historis, PMII memang tidak bisa dipisahkan dengan NU, bahkan sampai saat ini aktifitas keorganisasian PMII tidak pernah bertentangan dengan NU. Secara subtansi perjuangan pergerakan, visi kenegaraan, maupundalam merawat tradisi keagamaan PMII tetap menjalankan sebagaimana yang diajarkan oleh kyai-kyai NU.

Begitu juga dalam ranah ideologi, PMII juga menempatkan Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai metode berfikir dan bertindak.

Dengan posisi PMII dan NU yang demikian maka lahirlah Fase Interdependensi PMII-NU.[10]

24 Desember 1991, Cimacam, Jawa Barat.Untuk mempertegas posisi Interdependensi, maka pada Musyawarah Kerja Nasional PB PMII dikeluarkanlah “Implementasi Interdependensi PMII-NU”.

Implementasi Interdependensi tersebut didasari karena pertama PMII menjadikan Ulama NU sebagai panutan, kedua, adanya ikatan kesejarahan. Ketiga,persamaan paham keagamaan. Keempat persamaan wawasan kebangsaan dan yang terakhir adalah kesamaan kelompok sasaran.[11]

PMII dan Negara
1960-1972
1972-1998
1998-Sekarang



  1. Filosofi Nama dan Lambang



PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA



  1. Filosofi Nama

Nama PMII disusun dari empat kata yaitu “Pergerakan”, “Mahasiswa”, “Islam”, dan “Indonesia”. Makna “Pergerakan” yang dikandung dalam PMII adalah dinamika dari hamba (makhluk) yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya memberikan kontribusi positif pada ala m sekitarnya.

“Pergerakan” dalam hubungannya dengan organisasi mahasiswa menuntut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi ketuhanan dan kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuannya selalu berada di dalam kualitas kekhalifahannya. Pengertian

“Mahasiswa” adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan dimnamis, insan sosial, dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan, intelektual, sosial kemasyarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.

“Islam” yang terkandung dalam PMII adalah Islam sebagai agama yang dipahami dengan haluan/paradigma ahlussunah wal jama’ah yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara proporsional antara iman, islam, dan ikhsan yang di dalam pola pikir, pola sikap, dan pola perilakunya tercermin sikap-sikap selektif, akomodatif, dan integratif. Islam terbuka, progresif, dan transformatif demikian platform PMII, yaitu Islam yang terbuka, menerima dan menghargai segala bentuk perbedaan. Keberbedaan adalah sebuah rahmat, karena dengan perbedaan itulah kita dapat saling berdialog antara satu dengan yang lainnya demi mewujudkan tatanan yang demokratis dan beradab (civilized).

Sedangkan pengertian “Indonesia” adalah masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideologi bangsa (Pancasila) serta UUD 45.



  1. Arti Lambang PMII
    Pencipta Lambang: H. Said Budairi


  • Perisai: berati Ketahanan dan keampuhan mahasiswa Islam terhadap berbagai tantangan dan pengaruh dari luar.

  • PMII: Singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

  • Bintang: adalah melambang ketinggian dan semangat cita-cita yang selalu memancar.5 (Lima), bintang sebelah atas menggambarkan Rasulullah SAW dengan empat sahabat terkemuka (Khulafaur Rasyidin). 4 (Empat), bintang sebelah bawah menggambarkan empat mazhab yang berhaluan Ahlusunnah Wal-jama’ah. 9 (Sembilan), bintang sebagai jumlah bintang dalam lambang dapat berati ganda, yakni :

Rasulullah dan empat orang sahabat serta empat orang imam mazhab itu laksana bintang yang selalu bersinar cemerlang, mempunyai kedudukan tinggi dan penerang umat manusia.
Sembilan orang pemuka penyebar Agama Islam di Indonesia yang disebut walisongo.

  • Biru, sebagaimana lukisan PMII, berati kedalaman ilmu pengetahuan yang harus dimiliki dan digali oleh warga pergerakan. Biru juga menggambarkan lautan Indonesia yang mengelilingi kepulauan Indonesia dan merupakan kesatuan Wawasan Nusantara.

  • Biru Muda, sebagaimana warna dasar perisai sebelah bawah, berati ketinggian ilmu pengetahuan, budi pekerti dan taqwa.

  • Kuning, sebagaimana warna dasar perisai-perisai sebelah atas, berati identitas kemahasiswaan yang menjadi sifat dasar pergerakan lambang kebesaran dan semangat yang selalu menyala serta penuh harapan menyongsong masa depan[12].


  1. Posisioning PMII

Aktivitas PMII tidak terbatas pada bidang keagamaan, melainkan dalam berbagai varian yang beragam. Kemahasiswaan, kepemudaan, kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan adalah sederaet varian yang menjadi focus dari langkah besar perjalanan PMII.

Sebagai Organisasi kemahasiswaan PMII hadir bukan hanya sebatas pada gerakan-gerakan kritis kampus, melainkan juga turut andil dalam membangun setting gerakan  yang mendorong kebhinekaan, kedaulatan, persatuan, toleransi, dan keadaban di republik ini.

Dengan demikian maka PMII dan Negara melebur menjadi satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam konteks yang sedemikian rupa maka jelas Posisi PMII dalam konteks berbangsa dan bernegara:

  1. Sebagai basis Gerakan Intelektual. PMII hadir sebagai Organisasi yang bertanggungjawab menyiapkan kader yang militan, tegas, visioner, dan memiliki nalar kebangsaan yang kuat. Basis intelektual yang dimaksud adalah mempertajam imajinasi konseptual tentang tatanan masyarakat bangsa dan negara yang ideal.

Sekaligus menunjukkan bahwa PMII memiliki traded Intelektual yang mumpuni. Dengan menyiapkan kader-kader yang professional di bidangya masing-masing.

  1. Sebagai basis Gerakan Sosial Partisipatoris, basis sosial seperti ini berarti akan memperkuat masyarakat, namun model gerakan seperti ini tidak serta merta memosisikan PMII sebagai kelompok sosial yang meletakan masyarakat sebagai sebuah diskursus. Tetapi juga terlibat aktif dalam percepatan pembangunan dan pembendaharaan segala problematika yang dihadapi di masyarakat.

  2. Sebagai basis Gerakan Kebudayaan. Kekayaan kebudayaan yang membentang di nusantara merupakan potensi yang sangat berharga, maka dari itu PMII turut berpartisipasi dalam pembinaan kebudayaan bangsa serta mendorong semangat toleransi sebagai wujud kebersamaan.

Dalam konteks kebudayaan PMII berpegang sebagai dasar sebagaimana qaidah Ushul Fiqh, Al-Muhafadhatu ala Qadiimi as-Shalih wal Ahdu bi al-Jadidi al-Aslah (mempertahankan tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

  1. Gerakan Partisipasi Polik Aktif. Bagi PMII partisipasi politik bukan hanya masalah dipilih dan memilih melainkan lebih pada advokasi kebijakan negara serta mendorong kebijakan yang diambil oleh negara yang akomodatif terhadap kepentingan masyarakat secara umum.

  2. Gerakan Kitis Membangun. Menjadi keniscayaan dan tanggungjawab besar bagi PMII untuk berfikir kritis terhadap setiap kebijakan negara yang tidak memberikan kesejahteraan bagi masarakat umum, dan disinilah PMII hadir sebagai patner yang pengawal kebijakan negara dengan memberikan kritik yang membangun serta menawarkan grend design solution.

  3. Ke-Ashram Bangsa-an


    1. PMII Rayon Ashram Bangsa

Rayon Ashram Bangsa (dulu Komisariat Syari’ah) sebagai salah satu tertua di indonesia lahir pada tahun antara 1968-1970 di bawah nauangan Komisariat Pondok Sahabat UIN Sunan Kalijaga (dulu Komisariat Besar IAIN Sunan Kalijaga) dan Cabang PMII DIY.

Dalam kiprah pergerakan PMII Rayon Asahram Bangsa berperan penting dalam perjalanan PMII di Tanah Air, Terbukti kader PMII Rayon Ashram Bangsa mampu berperan aktif dalam dunia kewirausahaan, pendidikan, hukum, sosial politik dll. Prof K.H. Yudian Wahyudi M.A., P. HD. Yang berkipah di dunia pendidikan sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga masa jabatan 2016-2022, Dr. H. Agus Moh, Najib M.Ag. yang menjabat sebagai dekan fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga masa jabatan 2016-2022. Bapak K.H. Slamet Efeendi Yusuf yang juga sebagai salah satu tokoh politik dan intelek yang di banggaan oleh Nahdlatul Ulama’.

PMII Rayon Ashram Bangsa mampu mencetak 100 lebih kader per tahun yang bertaaqwa intelektual serta professional dalam menjalani kehidupan beragama dan bernegara.

Beribu-ribu kader hebat telah lahir dari rumah PMII Rayon Ashram Bangsa yang sudah berkiprah untuk ikut serta dalam membangun dan memperbaiki kondidi negeri ini.



  1. Idealitas Kader

Idealitas menjadi seorang kader yang di impikan PMII pada umumnya, Rayon Ashram Bangsa pada Khusunya adalah kader yang mampu menjadi suri tauladan dan tumpuan masyarakat luas, bangsa dan bahkan negara, sebab sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna bagi sesama. Sesuai dengan pasal V AD/ART PMII, Menjadi insan yang ulul albab, yaitu berkesadaran historis-primodial atas relasi tuhan-manusia-alam. Berjiwa optimis-transendental atas kemampuan mengatasi masalah kehidupan. Berfikir secara dialektis. Bersikap kritis produktif serta bertindak transformative.



Referensi:

  • Pengurus Besar PMII, 1980, Dokumen Historis PMII,

  • Pengurus Besar PMII, 1961, Arsip Deklarasi Tawangmangu, Pada Kongres PMII I Tanggal 26 Desember 1961 di Tawangmangu.

  • Pengurus Besar PMII, 1972, Arsip Deklarasi Munarjati, Pada Musyawarah Besar PMII III Tanggal 14 Juli 1972 di Malang.

  • Pengurus Besar PMII, 1989, Arsip Penegasan Cibogo, Pada Rapat Pleno IV Tanggal 8 Oktober 1989 di Medan.

  • Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga PMII

  • Arsip Kongres PMII ke-X

  • Pengurus PMII Rayon Ashram Bangsa, 2011, Modul PKD (Manifesto Nilai-Nilai PMII),

  • Pengurus PMII Rayon Ashram Bangsa, 2014, Modul PKD (Menciptakan kader PMII yang progresif, berlandaskan Aswaja untuk menghadapi perkembangan zaman),

  • Abdurrahman, Ontong, 1960-1985 Untukmu Satu Tanah Airku Untukmu Satu Keyakinanku, Jakarta : PB PMII

  • Hanif, dzakiri M., dan Rachman, Zaini, 2000, Post-Tradisionalisme Islam, (menyingkap corak pemikiran dan gerakan PMII, Jakarta : ISINDO MEDIATAMA

  • pmii.org/sejarah

www.nu.or.id/post/read/67358/sejarah-lahirnya-pmii

[1]Pasal 4, Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga PMII

[2] Post-Tradisionalisme Islam menyikap corak pemikiran dan gerakan pmii hlm 15-16

[3] Arsip historis PB PMII Jakarta

[4] Modul PKD 2014

[5] www.pmii.org/sejarah

[6] Arsip PB PMII Deklarasi Tawangmangu

[7] Modul PKD PMII Rayon Ashram Bangsa 2011

[8] Arsip PB PMII Deklarasi Munarjati

[9]Arsip PB PMII Penegasan Cibogo

[10] Hasil kongres ke X

[11] Ibid, www.pmii.org/sejarah

[12] Modul PKD PMII Rayon Ashram Bangsa 2014
Ke-PMII-an Ke-PMII-an Reviewed by ashrambangsanews on November 14, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar